NVIDIA merilis sebuah teknologi terbarunya bernama NVIDIA DLSS 5, yang menurut mereka menjadi terobosan paling signifikan perusahaan dalam urusan grafis komputer. Namun apakah pernyataan tersebut bisa diterima oleh banyak orang? Apalagi, tidak sedikit gamer yang mengkritiknya.
Lantas apa yang sebenarnya terjadi, mengapa cukup banyak gamer benci dengan teknologi NVIDIA ini? Alasannya mengarah kepada visual yang dihasilkan.
Namun sebelum membahasnya lebih rinci, sebaiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan NVIDIA DLSS 5 yang resmi diluncurkan pada 3 September 2026. Seluruh informasi ini merupakan hasil rangkuman Pahamora dari berbagai macam sumber.
Apa Itu NVIDIA DLSS 5?
NVIDIA DLSS 5 adalah rendering berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini menggunakan neural rendering untuk merekonstruksi pencahayaan, material, dan detail visual secara real-time. Sederhananya, teknologi ini berguna untuk meningkatkan kualitas grafis.
Pendiri dan CEO NVIDIA, Jensen Huang, pernah mengatakan bahwa DLSS 5 seperti GPT namun khusus untuk grafis. Dirinya menjelaskan, bahwa teknologi di dalamnya memadukan antara rendering buatan tangan dengan AI generatif, untuk menghadirkan peningkatan grafis secara signifikan dengan mempertahankan elemen-elemen tertentu.
Bagaimana DLSS 5 Bekerja?
Cara kerjanya dengan menggunakan frame rate bawaan game, beserta data seperti geometry, texture, lighting buffer, surface albedo, dan surface normals. Kemudian AI memahami objek, material, posisi cahaya, serta hubungan antar elemen dalam scene untuk menghasilkan pencahayaan dan material yang lebih realistis.
“DLSS 5 menerima vektor warna dan gerakan game untuk setiap frame sebagai input, dan menggunakan model AI untuk menghadirkan pencahayaan dan material fotorealistik ke dalam adegan yang terhubung dengan konten 3D sumber dan konsisten dari frame ke frame. DLSS 5 berjalan secara real-time hingga resolusi 4K untuk gameplay yang lancar dan interaktif,” dari penjelasan NVIDIA di situs resminya.
Pada dasarnya, teknologi ini menerapkan apa yang disebut NVIDIA sebagai 3D-Guided Neural Rendering. Di sini teknologi tersebut menyuntikkan pencahayaan fotorealistik, hamburan bawah permukaan pada kulit, dan efek material pada kain hingga rambut ke dalam game.
Ini bukan efek tambahan yang langsung dilempar di atas gambar. Bukan seperti saat foto kalian langsung ditempel oleh sebuah filter.
Prosesnya tidak sesederhana itu. Model ini secara efektif berpartisipasi dalam pembentukan frame, ikut mengisi detail dengan cara yang selaras mengacu pada representasi yang dipelajari dan digeneralisasikan terkait cahaya serta material berperilaku.
Itu artinya, hal tersebut secara fundamental mengubah gambar yang telah dibuat oleh pengembangnya. Dalam hal ini, hasil yang diberikan diterima dengan buruk oleh komunitas pengembang.
Apa Bedanya DLSS 5 dengan Versi Sebelumnya?
Perbedaan keduanya ada pada tujuan utamanya. DLSS 4 berfokus meningkatkan performa dan frame rate lewat Multi Frame Generation (MFG) dan model transformer. Sedangkan DLSS 5 memperkenalkan real-time neural rendering berbasis AI generatif, dengan misi menciptakan material dan pencahayaan yang fotorealistik alias visual menjadi lebih tampak nyata.
Jadi DLSS 4 memiliki tugas melakukan upscaling resolusi gambar dan menyisipkan frame tambahan agar game berjalan lebih mulus. Semetara DLSS 5 seperti yang sudah dijelaskan tadi, aktif ikut merender dan menciptakan elemen visual secara real-time, sehingga tidak sekadar menambahkan frame.
Kenapa Teknologi Ini Menuai Kritik dari Gamer?
Awal mula kritik tajam yang dilontarkan gamer terhadap DLSS 5 berasal dari demo, yang mereka tampilkan dalam acara GPU Technology Conference (GTC), pada 16 – 17 Maret 2026 di San Jose, California, Amerika Serikat.
Demo ini dijalankan di PC yang dilengkapi dua kartu grafis RTX 5090. PC segahar ini hanya untuk menonton Grace Ashcroft dari Resident Evil Requiem yang telah mengalami perubahan grafis berkat AI.
Para kritikus berpendapat bahwa DLSS 5 seperti mengaktifkan filter kecantikan pada karakter game tersebut. Mereka menilai NVIDIA mengesampingkan kesan artistik yang telah dibuat oleh pengembang secara sengaja.
Seniman Karla Ortiz menyampaikan pendapatnya bahwa jika para pengembang ingin condong ke arah hiper-realisme, mereka pasti sudah melakukannya sendiri. Namun para pengembang dinilai sengaja membuatnya seperti itu agar terkesan artistik.
Kalau harus uraikan lagi alasan mengapa gamer dan pengembang game mengkritik NVIDIA DLSS 5 adalah sebagai berikut.
Visual Karakter Dinilai Berubah, Terlalu AI
Apa yang dihasilkan DLSS 5 tiak cuma menaikkan resolusi, tetapi seperti menggambar ulang tekstur dan wajah karakter sesuai pemahaman AI. Jadi tidak sedikit dari orang-orang yang menilai kalau ini seperti tampilan AI Slop.
Kulit karakter terlalu halus, pori-pori dihilangkan, ekspresi wajah terdistorasi, sehingga mirip filter kecantikan di Instagram. Kalau harus mengambil contoh lain seperti thumbnail YouTube dan video pendek hasil bikinin AI.
Merusak Nilai Artistik dari Pengembangnya
Alih-alih menghormati desain yang dibuat pengembang, DLSS 5 malah memaksakan tampilan generik dan hiper realistis. Mereka mengubah art direction atau gaya visual unik yang sudah dirancang susah payah oleh pengembang.
Hal ini tentunya berpotensi membuat berbagai game terlihat seragam, karena diproses oleh model AI dan standar visual yang sama. Di sisi lain gamer khawatir pengembang game ke depannya akan terlalu mengandalkan AI, daripada membuat aset grafis secara manual.
Baca Juga: Apa itu ChatGPT? Ini Fungsi dan Cara Pakainya untuk Pemula
Apakah Kritik yang Datang Memang Beralasan?
Kalau sudut pandangnya pada masalah yang terjadi sekarang, sepertinya kritik yang datang cukup berasalan. Apalagi jika mengacu pada sederet alasan tadi.
Fitur ini membuka ruang diskusi yang besar, karena DLSS 5 tidak hanya menambah performa atau meningkatkan resolusi, tetapi seakan menggambar ulang elemen visual di dalam game mengandalkan AI generatif.
Namun NVIDIA menjelaskan, rendering generatif ini tidak menggantikan rendering berbasis fisik atau pembuatan karya seni. Disebutkan kalau DLSS 5 hanya melengkapinya dengan menyediakan pengetahuan tampilan dunia nyata yang dipelajarinya.
Itu dilakukan karena menurutnya tidak cukup hanya mengandalkan sampel tambahan, dan representasi adegan yang dibuat secara eksplisit.
Apa Kata NVIDIA Soal Kritik Orang-orang?
Ketika Huang ditanya dalam sesi tanya jawab pers tentang kritik, bahwa teknologi tersebut membuat game terlihat homogen atau hanya mewakili visi estetika Nvidia, dirinya menjawab dengan tegas.
“Pertama-tama, mereka sepenuhnya salah,” katanya, menanggapi pertanyaan dari pemimpin redaksi Tom’s Hardware, Paul Alcorn .
Ia berpendapat bahwa DLSS 5 memberi pengembang kendali langsung atas geometri, tekstur, dan elemen generatif, dan menggambarkannya sebagai “AI generatif kontrol konten” daripada AI generatif konvensional.
Masalah Baru
Seorang pemain telah menggunakan DLSS 5 yang bocor di internet, untuk mengubah game anime berjudul Danganronpa agar tampak realistis. Sayangnya, hasil yang diberikan di luar ekspektasinya.
Menurut akun X (tadinya Twitter) bernama Jo ini, hasil rendering DLSS 5 bisa dianggap sebagai mimpi buruk. Bukannya tampak realistik, sejumlah karakter seperti Makoto Naegi dan Junko menjadi sangat seram.
Namun sebenarnya, NVIDIA DLSS 5 secara resmi dan aktif pertama kali di game NBA 2K27. Jadi DLSS 5 yang bocor di internet itu merupakan file yang telah dimodifikasi para modder PC, lalu dipaksa jalan di game yang tidak mendukung teknologi tersebut.
Masa Depan NVIDIA DLSS 5
Kritik dari gamer maupun pengembang memang tidak bisa dihindari. Mereka tidak bisa membuat orang untuk suka terhadap produk yang diciptakannya.
Pada akhirnya NVIDIA DLSS 5 tetap rilis dan debut di game NBA 2K27 pada 3 September 2026, walaupun telah menerima kritik tajam pada awal pengenelannya. Entah apakah ke depannya NVIDIA bisa membuat gamer jatuh cinta dengan teknologi ini, atau justru sebaliknya. Masih harus kita pantau perkembangannya.
Leave a comment